BerandaOpiniMenurunnya Kualitas Pilkada 2018

Menurunnya Kualitas Pilkada 2018

- Advertisement -

Oleh: Riri Isthafa Najmi*

Ketidakpositifan dan ketidakstabilan kondisi politik serta kompetitifnya kekuataan masing-masing kandidat Pilkada di Aceh selama ini, dapat memengaruhi karakter dan watak masyarakat Aceh di daerah, baik sebagai timses maupun sebagai pemilih. Karakter ini juga dibentuk oleh kondisi dan keadaan Aceh paska konflik berkepanjangan.

Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah di tiga Kabupaten/Kota di Aceh, yaitu Aceh Selatan, Pidie Jaya dan Kota Subusalam yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018 atau pun dua minggu paska Idulfitri 1439 H, diharapkan dapat berjalan dengan baik, tanpa adanya kecurangan, intimidasi, intervensi, karena tentunya proses pemilihan kepala daerah yang berkualitas akan dapat menghasilkan pemimpin yang baik dan berintegritas.

Siklus lima tahunan kini sudah di ambang mata. Dalam waktu dekat, tiga kabupaten di Aceh akan menyelenggarakan kembali Pilkada 2018 secara serentak. Layaknya sebuah kompetisi, pilkada sudah tentu akan berkonsekwensi pada lahirnya pihak yang menang dan kalah, karena hanya perebutan untuk satu kursi, sementara peminatnya bisa lebih dari satu orang, dua, tiga, atau bahkan lebih.

Guna menjadi kontestan terunggul, maka para kandidat harus mampu bersaing dan mengerahkan segenap tenaga, potensi dan sumberdaya, baik berupa mental, finansial, maupun non-finansial.

Pengerahan ini berkonsekuensi pada investasi logistik dan material. Artinya mereka yang memiliki kekuatan finansial, maka bisa mengerahkan sumberdaya (finansial dan masa) secara lebih maksimal dan optimal.

Karakter dan dan ciri khas kompetitifnya sebuah pilkada pun bisa terbaca dari adanya rivalitas yang terbangun secara natural (alami) dalam setiap tahapan kontestasi dan pertarungan antar jaringan (masa masing-masing kandidat).

Rivalitas tersebut tidak berhenti hanya pada level kandidat saja, tetapi meluas hingga ke sel-sel jaringan timses yang dibangun di seluruh daerah. Artinya pada tingkatan timses juga ada potensi kompetisi yang bermuara pada potensi meretaknya dan merenggangnya hubungan silaturahmi antar keluarga dan sanak saudara.

Faktor Kelemahan Pilkada

Ada beberapa faktor penjelas yang bisa dijadikan alasan untuk memahami sikap sentimentil dan pragmatisnya sebuah kompetisi Pilkada 2018, di antaranya dipengaruhi faktor rendahnya tingkat pendidikan massa pendukung sehingga mereka mudah terpengaruh oleh berita-berita yang terkesan provokatif dan menghasut. Padahal bila mereka mau mencerna lebih jauh, boleh jadi berita tersebut adalah fitnah belaka dan ujaran kebencian (hoax).

Kemudian, faktor kondisi ekonomi di mana masyarakat merasa termakan jasa atas bantuan yang diberikan oleh para kandidat, maka timbul rasa hendak membela kandidatnya secara gelap mata dan balas budi dengan menghalalkan segala cara. Misalnya ada Timses yang memberi bantuan sembako, lalu masyarakat yang menerima bantuan tersebut merasa risih bila tidak membela kepentingan figur yang telah memberikan syafaat kepadanya.

Terakhir adalah faktor agama, di mana masyarakat awam yang tidak memilih berlandaskan agama akan cenderung menggunakan hak pilihnya berdasarkan kebutuhan pragmatis, seperti janji-janji jabatan, proyek-proyek infrastruktur, dan benefit-benefit lain yang bersifat langsung.

Ketiga variabel dan faktor diatas begitu efektif memeengaruhi seseorang hingga tidak jarang kita temukan, satu keluarga kandung-pun bisa terjadi keretakan hubungan hanya karena berbeda pilihan politik.

Hal ini banyak terjadi ketika Pilkada di daerah diselenggarakan, termasuk juga di beberapa kabupaten di pesisir Barat, salah satunya kampung penulis yaitu Kabupaten Aceh Selatan. Keretakan hubungan ini terjadi melintas waktu, mulai dari satu musim pilkada, hingga ke musim pilkada selanjutnya. Anehnya, pemimpin daerah telah berganti, namun sikap bermusuhan akibat perbedaan sikap politik masih saja hidup di antara hati anak manusia tersebut.

Retak Silaturrahami Jelang Pilkada

Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya keretakan silaturahmi jelang Pilkada di antaranya adalah sikap timses atau relawan yang terlalu sentimentil dan anarkis dalam membaca rivalitas dan kompetisi pilkada.

Massa pendukung terlalu membawa perasaan (baper), dan gagal mengendalikan rasionalitasnya dalam melihat sifat kompetitifnya sebuah pilkada. Karena terlalu menjagokan kandidatnya, mereka meyakini hanya kandidatnya saja yang benar, dan menutup mata terhadap prestasi kandidat lain.

Dalam waktu dekat, masyarakat Aceh Selatan akan memilih satu pasangan calon (paslon) dari tujuh kandidat Paslon untuk dijadikan orang nomor satu di Kabupaten Aceh Selatan.

Masyarakat berharap agar komunikasi antar kandidat, dan seluruh timsesnya dapat berjalan dengan baik, tanpa saling menjatuhkan, dan tanpa saling menjelek-jelekan pasangan lain. Apa lagi dengan adanya penambahan pasukan pengamanan dari unsur kepolisian, rakyat berharap tidak ada lagi kecurangan-kecurangan dalam pemungutan suara nantinya.

Kunci utama dalam melahirkan pemimpin yang baik, itu semua ada pada prosesnya. Pilkada menjadi barometer bahwa nilai- nilai demokrasi sudah diimplementasi. Ada kecemasan yang selalu menghantui pelaksanaan pesta demokrasi di Aceh, terutama di Pilkada Aceh 2018, yaitu adanya praktek money politik dan intimidasi sesama masyarakat yang akan terjadi. Memang indikator itu menjadi dua hal yang sangat berpotensi terjadi, ditambah lagi kondisi perpolitikan di Aceh yang masih berada dalam kategori kurang stabil dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama.

Semoga Pilkada 2018 serentak di 3 kabupaten/kota yaitu Aceh Selatan, Pidie Jaya dan Kota Subulussalam mampu mewujudkan Pilkada yang damai, bersih, santun, berintegritas, dan bermartabat. Amiin.

*Koordinator Forum Aceh Menulis dan Pengurus Pemuda Aceh Selatan. Akun FB, Twitter, IG dan Steemit: @bangnajmifame
Email: bangnajmi@gmail

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.