Indonesia Butuh 600 Ribu Ilmuwan Data Setiap Tahun

0
119
Ilustrasi: Satu Data Indonesia

GAGASANACEH.COM – Perusahaan startup Tanah AirGoJek memaparkan era disrupsi teknologi memunculkan jenis-jenis pekerjaan baru. Salah satunya adalah data scientist (ilmuwan data) yang kebutuhannya terus meningkat setiap tahunnya.

“Indonesia masih banyak memerlukan data scientist untuk memenuhi perkembangan industri berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan perusahaan startup (rintisan), kebutuhannya mencapai 600 ribu orang per tahun,” ujar Vice President Data Gojek, Syafri Bahar dikutip dari laman resmi Unej, Kamis, 2 Januari 2020.

Ia berpesan, lulusan perguruan tinggi harus adaptif dengan perubahan di era disrupsi teknologi saat ini. Kemajuan TIK juga telah menghapus sejumlah pekerjaan konvensional, namun di sisi lain juga menciptakan jenis pekerjaan baru.

Untuk itu, lulusan perguruan tinggi diminta untuk mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. “Lulusan perguruan tinggi diharapkan adaptif terhadap perubahan yang makin kerap terjadi, alias disrupsi. Wajib melek literasi digital, selain tentunya kompeten di bidangnya,” kata Syafri.

Ia menambahkan, perubahan pola kerja perusahaan turut berpengaruh di tengah era revolusi industri 4.0. Otonomi karyawan diberikan hak seluas-seluasnya untuk mengembangkan perusahaan.

Ia mencontohkan, kondisi kerja di GoJek. Karyawan diberikan keleluasaan mengambil keputusan di bidang tertentu asal sudah melalui prosedur yang ditetapkan dan didukung oleh data.

Hampir 75 persen keputusan di Gojek diambil oleh karyawan tanpa perlu berkonsultasi dengan atasan. “Pasalnya dinamika yang terjadi sungguh luar biasa, sehingga tentu sulit bagi kami jika semua keputusan harus melalui pembahasan oleh pimpinan Gojek terlebih dahulu. Padahal setiap hari bisa saja ada banyak permasalahan yang timbul dan menuntut solusi secepatnya,”

Pola kerja seperti ini tak seperti perusahaan kebanyakan yang lebih menekankan pola strukturisasi jabatan karyawan. Begitu juga dengan jadwal kerja yang fleksibel.

GoJek tak pernah menetapkan jadwal kerja maupun libur. Karyawan bisa bekerja sewaktu-waktu asal mencapai target yang sudah ditetapkan dan terpenuhi.

“Kalau mau libur ya libur saja, tapi tentu jika ada masalah yang timbul maka harus segera diselesaikan. Dari pengalaman saya, banyak pelamar ke Gojek yang secara akademis memenuhi syarat namun gagal saat diuji harus menyelesaikan problem yang tidak ada dalam text book,” jelasnya.

Sementara itu di waktu yang sama, Wakil Rektor I Universitas Jember, Zulfikar menegaskan bahwa Unej telah melakukan berbagai hal dalam rangka menyiapkan lulusan yang siap untuk berkompetisi di era Revolusi Industri 4.0. Salah satunya dengan memperkenalkan aplikasi TIK dalam proses belajar mengajar, seperti dengan peluncuran Sistem Informasi Terpadu (Sister) Next Generation yang lebih canggih dan memudahkan mahasiswa sebagai pengguna.

“Kami juga berencana memasukkan TIK sebagai salah satu muatan Mata Kuliah Umum sehingga diharapkan semua lulusan Kampus Tegalboto memiliki kemampuan literasi digital. Universitas Jember juga tengah menyusun rencana pembukaan program studi yang terkait data scientist dan program studi aktuaria. Insya Allah prosesnya akan dimulai 2020 nanti,” kata Zulfikar.

Sumber: Metdcom.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.