Guru Kompeten ala UKG

0
245
Ujian kompetensi guru

Guru adalah komponen penting dalam peningkatan mutu pendidikan di Negara manapun termasuk Indonesia. Dimana guru memiliki peran dan kunci yang sangat menentukan keberhasilan anak didiknya di lembaga pendidikan formal maupun in formal. Pada pendidikan formal seperti sekolah, guru dituntut harus profesional yang perlu memiliki kemampuan bagi sejumlah kompetensi tertentu di bidangnya. Apabila guru telah memiliki kemampuan kompetensi tersebut maka guru tersebut dianggap guru yang kompeten.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan tersebut, mulai dari ujian kompetensi guru (UKG) hingga pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar. Apabila guru telah mengikuti UKG maka hasilnya akan dipetakan untuk mengetahui dan memetakan kompetensi mana dan yang belum dikuasai guru yang terbagi dalam 10 kompetensi. Hasil pemetaan ini akan ditindaklanjuti berupa pelatihan guru paska UKG melalui program Guru Pembelajar untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik.

Faktanya, banyak guru di Indonesia yang tidak lulus UKG pada tahun 2015. Kebanyakan mereka terkendala dengan masalah internal dan eksternal yang mencengkram kinerja para guru itu di lapangan. Mulai dari kegagalan menguasai teknologi komputer dan internet, kesehatan yang tidak stabil, administrasi sekolah yang belum selesai, tekanan dan budaya kerja yang kurang sehat, usia yang sudah mau pensiun hingga penguasaan bidangnya yang sangat rumit dan kompleks. Belum lagi ditambah dengan berbagai kebijakan dalam dunia pendidikan baik sistem pendidikan maupun kurikulumnya. Apes sudah nasib guru yang tidak lulus UKG tersebut, sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah peribahasanya.

Banyak hal yang mereka rasakan, tetapi tetap semangat untuk mengikuti UKG secara online tersebut. Meski hasilnya tidak memuaskan, mereka tetap berusaha untuk maju menatap masa depan dengan mengecek hasil rapornya yang merah dan ketuntasannya dibawah rata-rata rapor siswa. Mereka malu tapi apa boleh buat semuanya harus dijalani.

Ironisnya para guru yang telah mendapat sertikat sebagai guru yang bersertifikasi tetap dilanjutkan, lalu bagaimana dengan kelulusan UKGnya? Belum lagi masalah jam mengajar yang tidak sesuai akibat kurangnya pemerataan guru di sekolah-sekolah. Kekesalan, kesedihan, rasa malu membuat mereka semakin sadar akan kualitas diri yang mereka miliki, akan tetapi akankah mereka dihukum seberat itu? Mereka merasa bahwa stigma guru profesional atau gelar guru kompeten tidak mereka miliki. Lalu bagaimana dengan proses pembelajaran yang mereka lakukan setiap harinya dengan berbagai tahap, prosedur, kegiatan dan acuan kurikulum? Apakah mereka cocok disebut tidak kompeten? Apakah pengetahuan lebih penting daripada prosesnya? Bukankah kita berharap guru lebih kompeten dalam proses pembelajaran? Bukankah hasil rapor guru tersebut dapat menghilangkan rasa percaya diri dan rendah diri dihadapan siswa dan masyarakat? Bahkan tingkat stres pun meningkat, lalu bagaimana sang guru akan nyaman dalam melaksanakan proses pembelajaran selanjutnya? Apakah guru yang telah lulus UKG sudah kompeten dalam pelaksanaan belajar mengajar? Apakah guru kompeten itu hanya yang lulus UKG?

Banyak pertanyaan yang terus muncul dalam jiwa guru yang telah mengetahui pemetaan kompetensinya. Untungnya keadaan yang dilematis tersebut telah mereka tekan dalam pikirannya dengan upaya mengikuti guru pembelajar dengan harapan dapat meningkatkan kompetensi yang telah dimiliki. Bukan untuk sekedar lulus untuk persiapan UKG berikutnya.

Oleh: Maitanur, S.Pd, MM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.