Asa Guru Garis Depan Asal Aceh di Perdalaman Kalimantan Barat

0
201

Kita tidak tahu sejauh mana kaki melangkah dan juga kita tidak tahu dimana petualangan besarnya akan dimulai. Begitu juga dengan saya yang telah menginjakkan kaki disini, di sebuah tempat yang sama sekali belum saya bayangkan sama sekali.

Agus Riansyah Guru Asal Aceh bersama Siswa (Suku Dayak) saat menuju ke Sekolah.
Agus Riansyah Guru Asal Aceh bersama Siswa (Suku Dayak) saat menuju ke Sekolah.

Disini adalah sebuah tempat yang jauh dari kota dan akses internet. Tempat dimana hanya ada sawit, pohon karet dan pohon-pohon hutan lainnya yang mengelilingi. Dan tempat itu adalah Dusun Batu Pindah atau nama lainnya Tempesuan, Desa Tumbang Titi, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

Dua tahun sudah berlalu, bersama 28 anak-anak sekolah dasar 23 Tumbang Titi (nama sekolah dimana saya ditempatkan) yang menjadi murid saya. Jumlah yang sangat sedikit untuk sebuah sekolah.

Bersama warga dusun yang mayoritasnya suku Dayak. Saya telah belajar bagaimana bertahan hidup, menikmati alam bebas, jalan lumpur dikelilingi hutan dan membiasakan diri tanpa akses listrik, jaringan internet dan sinyal HP.

Program GGD (guru garis depan) menempatkan saya di Desa Tumbang Titi, sebuah desa yang dihuni oleh berbagai macam suku. Namun, mereka hidup dalam keharmonisan dan saling menghargai keragaman dalam keyakinan.

Untuk mencapai ke Desa Bean, saya membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari ibukota kabupaten Ketapang, yang berjarak sekitar 86 km. Lamanya perjalanan disebabkan oleh akses jalan rusak dan berlumpur.

Di Desa Tumbang Titi, saya ditugaskan di sebuah Sekolah Dasar. Jarak sekolah dari Desa induk sekitar 5 km. Dan ketika sudah berada di dusun, akses listrik, dan sinyal HP sudah tidak ada lagi, sangat berbeda dengan kondisi di Desa Induk yang memiliki listrik 24 jam dan sinyal 4G.

Dengan jalan yang berlumpur ketika musim hujan, jarak segitu ditempuh dengan waktu lebih dari 15 menit. Butuh usaha yang besar untuk melalui jalan ke sekolah, namun jalan licin dan berlumpur bukanlah hal asing bagi guru-guru dan warga disini.

Jatuh dan sangkutnya motor di lumpur sudah terbiasa kami alami. Ketika hal tersebut terjadi, siapapun yang kebetulan berada disitu akan membantu meloloskan motor kami dari lumpur. Untuk kenyamanan, kami memakai sepatu lumpur untuk ke sekolah, sampai di sekolah diganti dengan sepatu pantofel yang biasa dipakai orang kantoran dan disimpan di sekolah.

Jalan tanah yang berlumpur dan licin ketika musim hujan bukan halangan bagi saya dan guru-guru disini untuk ke sekolah. Demi menyuapi sebuah ilmu untuk anak-anak di pedalaman Kalimantan. Jumlah siswa di sekolah yang hanya sedikit ini diasuh oleh enam (6) orang guru termasuk kepala sekolah dan seorang penjaga sekolah. Pak Matius, S.Pd sebagai kepala sekolah juga harus ikut mengajar karena kekurangan guru di sekolah ini.

Warga dusun Tempesuan mayoritasnya suku Dayak Pesaguan. Suku Dayak Pesaguan adalah sub-suku Dayak yang mendiami Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia. Dan mereka adalah kelompok masyarakat asli yang mendiami wilayah pehuluan aliran Sungai Pesaguan di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. (Sumber:Wikipedia/sukudayakpesaguan)

Selain mengajar, saya dan teman-teman Guru Garis Depan disini juga mengadakan kegiatan literasi. Kami menciptakan sebuah taman baca masyarakat (TBM), bernama Rumah Inspirasi Kita. Seminggu sekali saya dan tim mengunjungi ke sekolah-sekolah untuk membuat kegiatan. Tim Taman Baca mengunjungi sekolah-sekolah dengan membawa buku-buku bacaan yang didapatkan dari donasi dalam program Kirim Buku Gratis oleh POS Indonesia setiap tanggal 17 setiap bulannya. Kegiatan yang kami adakan adalah membaca buku gratis, permainan dan sains sederhana. Alhamdulillah kegiatan ini sangat dinantikan dan disenangi oleh anak-anak.

Awal dari pembentukan kegiatan ini adalah ketika meihat kondisi literasi anak-anak khususnya membaca yang sangat kurang, hal tersebut menggugah kami memprakarsai sebuah taman baca yang dinamakan dengan Taman Baca Rumah inspirasi kita. Kami mendapatkan buku-buku bacaan dari bantuan donatur dan teman-teman yang mempunyai buku bekas. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menarik minat membaca bagi anak-anak di salah satu pelosok Kalimantan. Tepatnya di Kalimanatan Barat kabupaten Ketapang Kecamatan Tumbang Titi Desa Tumbang Titi.

Adapun kegiatan ini berbentuk membaca bersama dengan bimbingan, belajar sains sederhana, games edukatif. Seminggu sekali Agus dan kawan-kawan mengunjungi sekolah-sekolah. Kegiatan ini biasanya berlangsung di siang/sore hari selama 1-2 jam. Pengurus Taman Baca membawa buku yang dimasukkan ke dalam kardus dan tas punggung yang akan dibagikan kepada anak-anak untuk dibaca.

Kegiatan kali ini berlangsung di Dusun Tempesuan, di Sekolah Dasar Negeri 23 Tumbang Titi. Tanpa sinyal dan listrik, begitulah kondisi di sekitar sekolah ini. Dan untuk mencapai ke lokasi, kami harus melewati jalan yang berbatu dan berlumpur, jika hujan jalan sangat licin, juga harus melewati hutan dan perkebunan sawit. Guru Garis Depan yang bertugas di sekolah ini adalah Agus Riansyah, pria asal Montasik, Aceh Besar.

Kegiatan kali ini agak istimewa karena hadirnya seorang bulek dari Skotlandia, bernama Rian, dia sudah berada di Tumbang Titi selama sebulan. Kehadiran bulek membuat para warga juga antusias mengikuti kegiatan. Tidak hanya siswa yang bersekolah disini yang mengikuti kegiatan, juga warga disini juga ikut ambil bagian. Rian mengajak anak-anak dalam permainan edukasi bahasa inggris.

“Perasaan kami sangat senang, pak guru. Kalo bisa kegiatan ini dibuat setiap minggu” ujar Dwi, salah satu siswa kelas 6. Para siswa sangat senang dengan adanya kegiatan membaca seperti ini, mengingat kekurangan buku bacaan membuat mereka seperti mendapatkan angin segar ketika kami mengantarkan buku-buku bacaan ke dusun mereka.

Pukat, ketua RT di Dusun Batu Pindah ini juga sangat berterima kasih atas kehadiran GGD degan menghadirkan bulek dan mengenalkannnya kepada anak-anak dan warga disini. Kehadiran GGD dan bulek ke dusun mereka yang sangat jauh dari kota kabupaten ini sangat memotivasi siswa untuk semangat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Saya yang bertugas SDN 23 Tumbang Titi, selain menjadi guru kelas juga mengajarkan bahasa inggris, itu juga didukung oleh latar belakang pendidikan saya Alumni FKIP Bahasa Inggris. Tujuannya adalah untuk mengenalkan bahasa asing kepada anak-anak, walaupun hidup jauh dari kota bukan berarti kita jauh dari ilmu pengetahuan juga bahasa asing.

Dan Alhamdulillah, kegiatan Taman Baca Masyarakat (TBM) sekarang mendapatkan dukungan dari Pemerntahan Desa dan Kecamatan Tumbang Titi dengan meminjamkan salah satu gedung untuk kami tempati. Pelan-pelan kami membuka sebuah perpustakan yang bisa dinikmati oleh warga setempat untuk membaca buku.

Mungkin selama saya disana, saya mendapatkan sebuah pelajaran yang luar biasa, selain bertambahnya syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah saya nikmati selama ini, pelajaran, pengalaman dan juga pola pikir dimana dulunya saya sempat berpikir bahwa Indonesia ini seperti apa yang ada di sinetron-sinetron yang disiarkan di TV, majalah dan buku-buku pelajaran.

Tapi pada kenyataannya, saya berada di sisi lain dari Indonesia, daerah dimana setiap malam kami cuma diterangi oleh pelita dan lentera. Yang mana sebagian anak-anaknya ke sekolah kadang-kadang tanpa menggunakan alas kali dan juga seragam yang sudah kekuningan.

Dan walaupun begitu, mereka akan melakukan apa saja, demi gurunya.(*)

Penulis Agus Riansyah, Seorang Guru, Program Garis Depan Kemendikbut RI. E-mail: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.