9 Juta Anak Indonesia Alami Stunting, Dana Desa Harus Mengatasinya

0
329
Kasus stanting di Indonesia bukan menjadi hal baru. Pasalnya sejak dulu masih banyak ditemukan kasus stunting yang kebanyakan dialami oleh keluarga tidak mampu. Foto ilustrasi (Istimewa)

GAGASANACEH.COM – Akibat berbagai faktor, jumlah anak yang mengalami stuting di negeri ini cukup mengkagetkan. Jika ini tidak segera diatasi, di masa depan bakal menghambat pertumbuhan ekonomi nasional karena mereka akan tumbuh sebagai tenaga kerja yang tidak produktif akibat gangguan kualitas mental dan intelektual.

Stunting adalah kondisi anak yang kekurangan gizi dalam waktu yang lama terutama pada saat dari dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun. Akibatnya, anak-anak itu mengalami gangguan pertumbuhan, biasanya bertubuh pendek dan mengalami gangguan intelektual. Pada saat mulai besar, anak itu akan mengalami masalah pada kemampuan mental dan kemampuan belajarnya sangat kurang.

Bukan itu saja, penderitaan anak-anak yang menderita stunting terus menguntit hingga mereka dewasa. Soalnya, stunting juga bakal menciptakan beragam resiko penyakit bagi yang mengalaminya. Penderita stunting bakal sangat beresiko mengalami diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi. Deretan masalah kesehatan seperti inilah yang bakal terjadi pada penderita stunting sehingga mereka menjadi generasi yang kehilangan daya produktivitasnya. Bayangkan, ada 9 juta anak-anak di Indonesia dalam keadaan terancam serentetan resiko ini. Itulah makanya stunting kini ditetapkan menjadi prioritas pemerintah.

Secara nasional jumlah anak-anak yang mengalami stunting sekitar 10.2 persen, angka yang besar bagi sebuah negara. Stunting tertinggi terjadi di Sulawesi Tengah dengan jumlah mencapai 16,9 persen dan terendah ada di Sumatera Utara dengan jumlah 7,2 persen. Untuk mengatasi masalah ini Pemerintah RI menetapkan 100 kabupaten menjadi sasaran program pengentasan stunting dan akan terus bertambah. Tingginya angka stunting di Indonesia membuat Indonesia menjadi salahsatu dari 17 negara di dunia yang masih mengalami stunting.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyatakan, dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018, pemerintah telah menjadikan penurunan stunting sebagai salahsatu Proyek Prioritas Nasional. Komitmen untuk menurunkan angka stunting sangat penting dilakukan. Soalnya, di masa depan negeri ini butuh anak-anak muda dengan kemampuan intelektual yang tinggi karena bakal bersaing dengan di era ekonomi digital yang membutuhkan generasi berkualitas.

Jangan salah, stunting bukan hanya dialami kalangan warga miskin yang tak mampu mengasupi keluarganya dengan asupan bergizi. Stunting juga terjadi pada keluarga sejahtera dan berkecukupan yang sesungguhnya mampu memberikan gizi terbaiknya pada anak-anak. Masalahnya adalah pada kesadaran mengenai pentingnya pemberian asupan bergizi untuk anak alias kesalahan pola pengasuhan. Kesadaran pengasuhan adalah salahsatu yang harus dilakukan pemerintah dalam ranga menurukan angka stunting di Indonesia.

Dana desa adalah salah satu sumber dana yang harus dialokasikan untuk mengurangi stunting di masing-masing desa di seluruh Indonesia. Apa hebatnya sebuah desa meski punya unit usaha hebat dan pendapatan tinggi jika masih ada warga Balita yang mengalami stunting di sana.

Sementara itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menyebut, dana desa sangat bermanfaat untuk mengurangi masalah-masalah di desa, termasuk soal kemiskinan dan kekurangan gizi (stunting).

Eko mengatakan, stunting terjadi salah satunya karena masalah infrastruktur dasar di desa belum terpenuhi. Adanya perbaikan infrastruktur di desa juga seiring sejalan dengan menurunnya angka stunting. Dalam kurun waktu tiga tahun ini, stunting berhasil diturunkan hingga 10%.

Selain infrastruktur, pemicu stunting lainnya adalah ketidaktahuan dan juga kemiskinan. Oleh karena itu, seiring dengan perbaikan infrastruktur di desa, Kemendes pun akan terus melakukan terobosan agar angka stunting bisa diturunkan. Mendes optimistis jika ketiga faktor pemicu ini bisa ditekan maka dalam kurun waktu lima tahun ke depan angka stunting bisa ditekan menjadi satu digit.

Stunting juga harus menjadi perhatian bersama sebab risiko stunting akan memengaruhi angkatan kerja dan akan berdampak negatif pada target Indonesia menjadi negara maju. “Indonesia sudah ada di landasan pacu menjadi negara maju. Salah satu kendala adalah tingkat pendidikan dan kualitas SDM,” jelasnya.

Untuk diketahui, pada 2018 ini dana desa diberikan ke 74.957 desa, di mana masing-masing desa mendapat kucuran dana sekitar Rp800,4 juta.(Berdesa/dbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here